Pages

Sunday, July 6, 2014

Mendalami Penerapan Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran



Sejalan diawalinya penerapan  kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah, atau pendekatan saintifik, atau scientific aproach  menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik. Penerapan pendekatan ini menjadi tantangan guru melalui pengembangan aktivitas siswa yaitu mengamati, menanya,  mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.

Tujuh aktivitas belajar tersebut merupakan aktivitas dalam mengembangkan keterampilan berpikir untuk mengembangkan ingin tahu siswa. Dengan itu diharapkan siswa termotivasi untuk mengamati fenomena yang terdapat di sekitarnya, mencatat atau mengidentifikasi fakta, lalu merumuskan masalah yang ingin diketahuinya dalam pernyataan menanya. Dari langkah ini diharapkan siswa mampu merumuskan masalah atau merumuskan hal yang ingin diketahuinya.
Perhatikan posisi pengembangan keterampilan berpikir dalam aktivitas siswa dalam gambar di bawah ini.
 Untuk mendukung pendalaman materi tentang penerapan pendekatan saintifik sebelum para pembaca yang budiman melanjutkan telahan materi perlulah kiranya mengunduh materi berikut:
Langkah selanjutnya adalah memulai kegiatan inti pembelajaran dengan selalu dengan aktivitas  pengamatan. Siswa mengamati fenomena dalam bentuk video, gambar, kerangka pikir, teks, bahkan fenomena sosial maupun alam.  Dalam pendekatan saintifik berarti guru tidak cukup berbekal buku teks ke dalam kelas. Guru perlu selalu menyiapkan bahan pelajaran yang akan siswa amati sebelum melakukan aktivitas belajar. Pembelajaran menjadi kontekstual. Guru tidak memulai dengan memberi tahu siswa sehingga guru tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar.
Jika tindak lanjut dari pengamatannya adalah pertanyaan atau masalah maka sesungguhnya guru meletakan fondasi aktivitas pada metode pemecahan masalah (problem based learning). Apabila tindak lanjut dari pengamatan siswa berusaha menyingkap kedalaman penomena dengan pertanyaan mengapa sehingga siswa mencari tahu untuk menemukan hal baru yang ingin diketahuinya maka guru dapat menerapkan metode inkuiri. Setelah melakukan aktivitas mengamati, siswa dapat menggunakan kata tanya bagaimana sehingga rasa ingin tahunya berkembang untuk mendalami proses kerja, maka boleh jadi guru menggunakan metode proyek untuk menghasilkan karya. Oleh karena itu, dalam menerapkan  pendekatan saintifik dapat mengkombinasikan metode pemecahan masalah, metode inkuiri, dan metode proyek.
Apakah Pendekatan Ilmiah?
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.
Pendekatan ilmiah berarti konep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah. 
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
Menurut  majalah Forum Kebijakan Ilmiah yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan  bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa.
Pada penerbitan berikutnya pada tahun 2007  dinyatakan bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran harus memenuhi  tiga prinsip utama; yaitu:
  • Belajar siswa aktif, dalam hal ini  termasuk inquiry-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar berkelompok, dan belajar berpusat pada siswa.
  • Assessment berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.
  • Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.
Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawab pertanyaan  melalui kegiatan observasi, mencoba melaksanakan aktivitas, atau melaksanakan percobaan. Oleh karena itu, pada umumnya,  pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:

  1. Merumuskan pertanyaan.
  2. Merumuskan latar belakang penelitian.
  3. Merumuskan hipotesis.
  4. Menguji hipotesis melalui percobaan.
  5. Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.
  6. Jia hipotesis terbukti benar maka daapt dilanjutkan dengan laporan.
  7. Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan pengujian kembali.
Pada ketujuh langkah kegiatan, pada dasarnya untuk mengembangkan keterampilan berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan yang muncul dari pengamatan pada hakekatnya untuk mendalami atau memperluas cakrawala ilmu. Oleh karena itu, dalam proses pendalam di sini mencakup aktivitas eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi untuk meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan yang telah siswa ketahui teruji kebenarannya. Yang menarik di sini, bagaimana guru mengembangkan keterampilan siswa bertanya. Masalah ini perlu menjadi penekanan karena dalam pelaksanaan pembelajaran sebelumnya telah terbentuk kebiasaan guru yang bertanya dan siswa selalu menjawab. Dalam penerapan kurikulum 2013, siswa menggali informasi dengan diawali dengan mengamati dan bertanya, lalu siswa mendalami informasi untuk menjawab pertanyaan.
Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah perlu siswa kembangkan melalui proses pengamatan atau penelaahan. Berdasarkan  teori yang diperolehnya maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan dengan materi pembahasan  sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.
Uraian singkat buah pemikiran Rawcett J and Downs F. 1986. http://www.indiana.edu/ ~educy520/ readings/fawcett86.pdf menyatakan bahwa teori dengan penelitian memiliki hubungan yang sangat erat. Pola hubungannya dialektik sehingga teori ditentukan oleh data yang dikoleksi sebagai perolehan penelitian. Pada tahap selanjutnya pengolahan data menentukan peluang diterimanya suatu teori.
Disain penelitian dapat menghasilkan tiga ragam teori  yaitu deskriptif, korelasi, dan eksperimen. Penelitian deskriptif menghasilkan teori deskriptif yang menggambarkan atau mengklasifikasi karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa yang disusun secara ringkas dari hasil  atau  temuan obeservasi. Yang termasuk pada tipe ini adalah studi kasus, survey, studi etnografi, dan studi gejala. Jadi, teori deskriptif diperoleh dari penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menjawab pertanyaan;
  • Apakah ini?
Penelitian dan teori relasional yang mempelejari hubungan antara berbagai dimensi atau karakteristik individu, kelompok, situasi, atau peristiwa. Pada tipe ini dijelaskan  bagaimana hubungan bagian dari suatu gejala dengan yang lainnya. Teori dapat dibangun setelah karakteristik atau gejala benar-benar diketahui. Pada riset tipe ini  digunakan  pertanyaan:
  • Apa yang terjadi di sini?
  • Apa yang terjadi jika beberapa karakteristik muncul bersamaan?
Penelitian dan Teori eksperimental bergerak pada prediksi hubungan sebab-akibat antara dimensi atau karakteristik  suatu gejala atau perbedaan antar kelompok. Tipe ini berkaitan dengan penyebab dan pengaruh yang mengeksplorasi persoalan mengapa  ada perubahan gejala atau suatu keadaan. Teori eksplanatori menguji kebenaran dengan riset eksperimen dengan  menggunakan pertanyaan:
  • Apa yang akan terjadi jika…?
  • Apakah perlakuan A berbeda dengan perlakuan B?
Kemampuan menguasai teori menurut Krathwohl dapat dipetakan dalam tabel Taksonomi seperti di bawah ini.
Dimensi proses kognitif menggambarkan tingkat kecakapan berpikir dari mulai mengingat, mengerti atau memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.  Istilah berkreasi sama dengan mencipta. Pada dimensi penguasaan ilmu pengetahuan atau teori meliputi  penguasaan ilmu pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognif.
Kita mengetahui bahwa dalam rancangan kurikulum 2013 membedakan siswa sekolah dasar yang diberi target untuk mengembangkan kompetensi faktual dan konseptual, dan sekolah menengah mendapat target untuk mengembangkan kemampuannya sampai prosedural dengan puncak kompetensi  pada mencipta.
Bagaimana penerapan metode ilmiah?
Pada pelatihan tahap awal, masalah  utama yang guru hadapi adalah mengubah kebiasaan guru bertanya dan menjelaskan. aktivitas guru ini perlu diubah dengan mengasah kebiasaan baru yaitu siswa mengamati, bertanya, dan mencari tahu jawabannya. Guru menjadi fasilitator agar siswa melaksanakan aktivitasnya. Dalam pelatihan diperoleh fakta bahwa keterlatihan dalam membuat pernyatanaan agar siswa yang bertanya setelah mengamati sangat penting. Contohnya guru menyatakan;
  • Setelah para siswa mengamati gambar cobalah gunakan kata mengapa agar kalian mendapatkan  informasi yang lebih banyak tentang gambar itu!
  • Setelah mengamati teks, silakan membuat pertanyaan dengan menggunakan kata bagaimana tentang isi teks yang telah kalian baca.
  • Setelah kalian mengamati tabel, silakan  menyiapkan  pertanyaan tentang data yang menarik perhatianmu!
Selain menggunakan pernyataan, guru dapat pula menggunakan pertanyaan untuk membangun rasa ingin tahu siswa seperti:
  • Siapa yang akan mengajukan pertanyaan tentang isi teks yang telah kalian baca?
  • Pertanyaan apa yang sebaiknya kita kembangkan untuk menggali infomasi yang lebih dalam tentang fakta yang telah kalian amati?
  • Siapa yang dapat menyusun  pertanyaan dengan memakai kata mengapa dan bagaimana tentang materi yang telah kita amati?
Contoh di atas merupakan bagian dari teknik yang perlu guru kuasai dalam meningkatkan keterampilan siswa bertanya. Hal perlu diulang-ulang agar kebiasaan yang selama ini melekat guru bertanya-siswa menjawab dapat berubah. Kelihatannya trik ini sangat sederhana, namun dalam praktikya  hal itu tidak selalu mudah dilakukan oleh para pendidik.
Hal penting lain dalam menerapan pendekatan ilmiah adalah menentukan kompetensi siswa yang hendak siswa kuasai. Sebagaiamana diuraikan sebelumnya bahwa guru dapat memfasilitasi siswa pada tiga tipe pilihan yaitu model deskriptif, relasional, atau eksperimen. Ketiga tipe tersebut memerlukan teknik eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang berbeda sehingga akan menghasilkan produk belajar yang berbeda yaitu teori deskriptif, relasional, dan hasil eksperimen.
Hal berikutnya yang perlu guru perhatian adalah hasil belajar yang hendak siswa wujudkan. Hal ini terkait dengan perumusan pertanyaan awal seperti:
Bagaimana penggunaan metode ilmiah dapat meningkatkan hasil belajar siswa? Untuk menjawab pertanyaan itu, maka ikutilah langkah berikut.
  1. Materi; tentukan materi yang akan siswa eksplorasi dalam kegiatan belajar dengan memilih satau satu dari tipe deskriptif, relasional, atau eksperimen.
  2. Prosedur; susunlah langkah rinci yang akan siswa lakukan dalam melaksanakan penelitian.
  3. Hasil; tentukan apa yang akan siswa pelajari pada pelaksanaan observasi. Data apa yang akan siswa himpun, diolahnya dan yang siswa tafsirkan.
  4. Simpulkan hasilnya,  informasi yang anda peroleh dari hasil observasi gunakan untuk menjawab pertanyaan yang menjadi masalah sebelum anda melakukan percobaan atau penelitian. Apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis atau menjawab pertanyaan?
Penilaian hasil belajar dapat dilihat dalam tiga dimensi. Keterampilan berpikir terepleksi pada aktivitas ; Mengamati,  Menanya, Mencoba, Mengolah, Menyaji , Menalar dan Mencipta. Level kecakapan berpikir terpetakan dalam model Taksonomi : mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Sedangkan dalam penguasaan teori meliputi faktual, konseptual, dan proseduran.  Pada pelakanaannya tidak semua aktivitas dinilai pada tiap pelaksanaan pembelajaran. Guru dapat memilih prioritas yang  berdasarkan peta Krathwohl seperti di bawah ini.
Pelaksanaan kegiatan belajar, misalnya, dalam dua jam pelajaran dibatasi pada kegiatan kelompok dalam penguasaan fakta, konsep, dan mencipta pada ranah kognitif level tinggi yaitu analisis, evaluasi, dan berkreasi pada materi pelajaran yang telah guru tentukan.
Model Penerapan Pendekatan Kuntitatif dan Kualitatif 
Penerapan metode ilmiah dalam pembelajaran dapat memilih menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan adalah  pendekatan yang ilmiah dan sistematis mengembangkan dan menggunakan model-model matematisteori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran menjadi ciri khas pada penelitian kuantitatif menggambarkan  hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis pada hubungan-hubungan yang dinyatakan dalam bentuk angka (Wikipedia)
Contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka dalam menghadapi masa depan  sejak  setahun yang lalu hingga hari ini.
Pendekatan  kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).
Model penerapan metode dapat dilihat dalam gambar berikut:
Kegiatan bersiklus yang bermula dari indentifikasi masalah, membatasi masalah, menetapkan fokus kajian, menghimpun data, mengolah dan membahas data, mencocokkan dengan teori atau hipotesis, dan menyusun serta menyajikan laporan. Pada model ini dapat mengelola data tidak dengan menggunakan angka-angka.
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.  Peneliti pergi ke lokasi, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti meng­amati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubung­annya dengan peristiwa yang terjadi saat itu.  Peneliti mendatangi suatu lingkungan kemudian menggali informasi yang menjadi fokus yang telah ditentukan.
Data yang diperoleh seperti hasil peng­amatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya. Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai gejala yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif.
Hakikat pema­paran data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan me­ngapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan me­nguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan penjelasan  mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. 
Prinsip-prinsip itulah yang seharusnya guru terapkan dalam proses pembelajaran sehingga dipastikan siswa tidak hanya aktif dalam kelas, namun mereka dapat mendatangi alam sekitar untuk melakukan kegiatan belajar di luas kelas.

HUBUNGAN FILSAFAT, ILMU DAN AGAMA



A. Definisi Filsafat, Ilmu dan Agama
1. Definisi Filsafat
Hatta dan Langeveld (dalam Tafsir, 2007: 9) menyatakan lebih baik pengertian filsafat itu tidak dibicarakan lebih dahulu. Jika orang telah banyak membaca filsafat ia akan mengerti sendiri apa filsafat itu. Dengan demikian, timbul pertanyaan siapa yang pertama sekali memakai istilah filsafat dan siapa yang merumuskan definisinya?. Yang merumuskan definisinya adalah orang yang datang belakangan. Penggunaan kata filsafat pertama sekali adalah Pytagoras sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masa itu yang menamakan dirinya orang bijaksana, orang arif atau orang yang ahli ilmu pengetahuan. Dalam membantah pendapat orang-orang tersebut Pytagoras mengatakan pengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh manusia. (Dardiri, 1986: 9)
Secara teoritis kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata philosophia, dan philosophos diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan shopos. Philos berarti cinta dan sophia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah. Dalam pengertian ini, seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya menagndung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah. (Barnadib, 1997: 9)
Berfilsafat artinya berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, Nasution secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai; pengetahuan tentang hikmah, pengetahuan tentang prinsip atau dasar, mencari kebenaran, membahas dasar dari apa yang dibahas(dalam Sumarna, 2006: 39).
Sedangkan secara praksis Bakry (dalam Sumarna, 2004: 26-27) mendefinisikan filsafat dalam ragam pandangan para tokoh filsafat. Plato dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang meliputi kebenaran. Al-Farabai mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bagaimana hakekat alam yang sebenarnya. Descartes mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan, yakni tentang Tuhan, alam dan manusia. Immanuel Kant mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Maka pokok persoalan yang dikaji menurut Kan adalah; 1). Apakah yang dapat manusia ketahui (dijawab oleh metafisika), 2) apa yang seharusnya diketahui manusia (dijawab oleh etika), 3) sampai dimanakah harapan manusia (dijawab oleh agama).
2. Definisi Ilmu
Untuk memahami ilmu dengan baik dan menguasainya secara mendalam guna pengembangannya, pengetahuan mengenai hakikat ilmu merupakan keharusan mutlak. Akan tetapi hakikat ilmu dalam esensinya bukan masalah sederhana, melainkan problem filsafat yang justru paling rumit dan fundamental serta telah menimbulkan perbedaan konsep filosof dalam aspek ontologi, epistimologi dan aksilogi. Bahkan kaum sofis menolak eksistensinya sebagai kebenaran objektif. Ini terlihat sepanjang sejarah zaman Yunani kuno hingga dewasa ini, yang masing-masing aliran mempunyai hukum atau teori sendiri untuk melegitimasi dan menunjukkan keunggulannya di atas aliran lain yang sering bersifat apologetik atau sugestif (Anwar, 2007: 77).
Menurut filosof kuno (dalam Anwar, 2007: 92) ilmu didefinisikan terhasilkannya “gambar” sesuatu pada akal, sama saja apakah sesuatu itu merupakan universal atau partikular, baik ada maupun tiada. Masih dalam buku yang sama Razi mendefinisikan ilmu sebagai putusan akal yang pasti dan cocok dengan realitas obyek berdasarkan suatu argumen. Sedangkan Menurut Ghazali ilmu adalah terhasilkannya salinan objek pada mental subjek sebagaimana realitas objek sendiri, yang dalam bahasa dinyatakan sebagai proposisi-proposisi yang pasti dan sesuai dengan realitas objek berdasarkan metode ilmiah tertentu. Untuk kemajuan dan kebahagiaan manusia secara pribadi.
3. Definisi Agama
Kata agama yang dalam bahasa Inggris disebut religion diartikan dengan “bilief in and worship of God or Gods” atau juga diartikan dengan “particular system of faith and worship based on such belief”. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Tafsir (2007: 9) mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut dan peraturan tentang cara hidup lahir batin. Sedangkan Einstein (dalam Salam, 1988: 134) agama adalah kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya, yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat disadari dengan akal. Agama juga diartikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam semesta alam yang tak dapat dipahami
B. Hubungan Filsafat dengan Ilmu
Di zaman Plato bahkan pada masa al-Kindi batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh disebut tidak ada. Seorang filosof pasti menguasai semua ilmu. Tetapi perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praksis, berujung pada cepatnya loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat. Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam perkembangan berikut, perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung oleh kecanggihan teknologi, telah mengalahkan perkembangan filsafat. Wilayah kajian filsafat bahkan seolah menjadi sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang relevan dikembangkan oleh manusia. Sebab manusia hari ini lebih membutuhkan ilmu yang sifatnya lebih praksis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit dibumikan. (Sumarna, 2004: 36)
Ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen (Kartono dalam Sumarna, 2004: 36). Keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen sendiri, dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praksis. Dengan demikian, ilmu pengetahuan manusia yang telah dihasilakn oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang telah terteoritisasi (Keraf dalam Sumarna, 2004: 37). Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran, sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang komprehensif, yakni; yang luas, yang umum dan yang universal (menyeluruh dan itu tidak diperoleh oleh ilmu (Sumarna, 2004: 37).
Menurut AM. Saefuddin (1998: 31) filsafat dapat ditempatkan pada posisi maksimal pemikiran manusia yang tidak mungkin pada taraf tertentu dijangkau oleh ilmu. Menafikan kehadiran filsafat, sama artinya dengan melakukan penolakan terhadap kebutuhan riil dari realitas kehidupan manusia yang memiliki sifat untuk terus maju.
Ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Ilmu bersifat pasteriori: kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. Untuk kasus tertentu, ilmu bahkan menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat bersifat priori, yakni,: kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adaya data empiris seperti yang dimiliki ilmu. Karna filsafat bersifat spekulatif dan kontemplatif yang ini juga tidak dimiliki ilmu. Kebenaran filsafat tidak dapat daat dibuktikan oleh filsafat itu sendiri, tetapi hanya dapat dibuktikan oleh teori-teori keilmuan melalui observasi dan eksperimen atau memperoleh justifikasi kewahyuan. Denga demikian, tidak setiap filosof dapat disebut sebagai ilmuwan, sama seperti tidak semua ilmuwan disebut filosof. Meski demikian cara kerja filosof dan imuwan itu sama yakni menggunakan aktifitas berfikir. Tetapi aktifitas berpikir ilmuwan sangat berbeda dengan aktifitas berpikir filosof. Berdasar cara berfikir seperti itu, maka hasil kerja filosofis dapat dilanjutkan oleh cara berpikir ilmuwan. Hasil kerja filosofis bahkan dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu. Namun demikian, harus juga diakui, bahwa tujuan akhir dari ilmuwan yang bertugas mencari pengetahuan, sebagaimana hasil analisa Spencer , dapat dilanjutkan oleh cara kerja berpikir filosofis ( Bagus, 1996: 311).
Disamping sejumlah perbedaan tadi, antara ilmu dan filsafat serta cara kerja ilmuwan dan filosof, memang mengandung sejumlah perasaan , yakni sama-sama mencari kebenaran. Ilmu memiliki tugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta, sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan kemana akhirnya (Saefuddin, 1998: 31).
Berbagai gambaran di atas memperlihatkan bahwa antara ilmu dan filsafat mempunyai hubungan yang sangat erat, filsafat di satu sisi bisa menjadi pembuka bagi kemunculan sebuah ilmu dan juga menjadi cara kerja akhir ilmuwan. Maka, filsafat sering disebut sebagai mothers of science, sebagai pembuka bahkan sebagai penutup yang tidak bisa diselesaikan oleh ilmu sekalipun. Jadi, intinya ilmu tidak akan lahir tanpa adanya filsafat, karena ilmu muncul dengan adanya filsafat, yang mana filsafat memberikakan jalan ilmu menjadi berdiri sendiri melepaskan diri dari filsafat, walaupun sebenarnya ilmu tidak akan mampu melepaskan diri dari filsafat. Selain itu kesamaan antara filsafat dan ilmu adalah sama-sama beraktiiftas berfikir dan mencari kebenaran sesuatu..
Kemudian di sisi lain objek filsafat bukanlah hal-hal yang empiris, bukan seperti penyelidikan sains yang keingin-tahuannya hanya pada batas yang dapat diteliti secara empiris. Dalam istilah lain, batas penelitian dalam ilmu pengetahuan adalah pada daerah yang dapat diriset, sedangkan objek filsafat adalah hal-hal yang dapat dipikirkan secara logis. Sains meneliti dengan riset, sedang-kan filsafat meneliti dangan memikirkannya.
Realitas juga menunjukkkan bahwa hampir tidak ada satu cabang ilmu pun yang lepas dari filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu tersendiri, lahir sebuah disiplin filsafat untuk mengkaji ilmu pengetahuan yang disebut sebagai falsafat pengetahuan, kemudian berkembang lagi yang melahirkan salah satu cabang yang disebut sebagai filsafat ilmu. dalam perkembangannya kita bisa mengkaji tentang filsafat pendidikan, filsafat ilmu, filsafat hukum, filsafat politik dan sebagainya.
C. Hubungan Filsafat dengan Agama
Sudah pasti dan tentu bahwa antara agama dan filsafat itu terdapat perbedaan. Menurut Rasyidi (1965: 3), perbedaan antara filsafat dan agama bukan terletak pada bidangnya, tetapi terletak pada cara menyelidiki bidang itu sendiri. Filsafat adalah berfikir, sedangkan agama adalah mengabdikan diri, agama banyak hubungan dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungan dengan pemikiran. Williem Temple, seperti yang dikutip Rasyidi, mengatakan bahwa filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadah atau mengabdi. Pokok agama bukan pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang penting adalah hubungan manusia dengan Tuhan.
Lewis (dalam Rasyidi, 1965) mengidentikkan agama dengan enjoyment dan filsafat dengan contemplation. Kedua istilah ini dapat dipahami dengan contoh: Seorang laki-laki mencintai perempuan, rasa cinta itu dinamai dengan enjoyment, sedangkan pemikiran tentang rasa cinta itu disebut contemplation.
Di sisi lain agama mulai dari keyakinan, sedangkan filsafat mulai dari mempertanyakan sesuatu. Mahmud Subhi (1969: 4) mengatakan bahwa agama mulai dari keyakinan yang kemudian dilanjutkan dengan mencari argumentasi untuk memperkuat keyakinan itu, (ya`taqidu summa yastadillu), sedangkan filsafat berawal dari mencari-cari argumen dan bukti-bukti yang kuat dan kemudian timbul-lah keyakinannya (yastadillu summa ya`taqidu).] Dalam pendapat Mahmud Subhi , agama di sini kelihatan identik dengan kalam, yaitu berawal dari keyakinan, bukan ber-awal dari argumen.
Perbedaan lain antara agama dan filsafat adalah bahwa agama banyak hubungannya dengan hati, sedangkan filsafat banyak hubungannya dengan pikiran yang dingin dan tenang. Agama dapat diidentikkan dengan air yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya, sedangkan filsafat diumpamakan dengan air telaga yang jernih, tenang dan kelihatan dasarnya. Seorang penganut agama biasanya selalu mempertahankan agama habis-habisan karena dia sudah mengikatkan diri kepada agamanya itu. Sebalik-nya seorang ahli filsafat sering bersifat lunak dan sanggup meninggalkan pendiriannya jika ternyata pendapatnya keliru (Rasyidi, 1965: 4).
Di sisi lain Nasution (1979: 11) membandingkan pembahasan filsafat agama dengan pembahasan teologi, karena setiap persoalan tersebut juga menjadi pembahasan tersendiri dalam teologi. Jika dalam filsafat agama pembahasan ditujukan kepada dasar setiap agama, pembahasan teologi ditujukan pada dasar-dasar agama tertentu. Dengan demikian terdapatlah teologi Islam, teologi Kristen, teologi Yahudi dan sebagainya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa agama dan filsafat adalah dua pokok persoalan yang berbeda. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa. Dalam agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam), Yang Kuasa itu disebut Tuhan atau Allah, sedangkan dalam agama ardi Yang Kuasa itu mempunyai sebutan yang bermacam-macam, antara lain Brahma, Wisnu dan Siwa dalam agama Hindu, Budha Gautama dalam agama Budha, dan sebagainya. Semua itu merupakan bagian dari ajaran agama dan setiap ajaran agama itulah yang menjadi objek pembahasan filsafat agama. Filsafat seperti yang dikemukakan bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang sebenarnya itu mem-punyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.
Jika dikaji, isi filsafat itu ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Karena filsafat mempunyai pengertian yang berbeda sesuai dengan pandangan orang yang meninjaunya, akan besar kemungkinan objek dan lapangan pembicaraan filsafat itu akan berbeda pula. Objek yang dipikirkan filosof adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik ada dalam kenyataan, maupun yang ada dalam fikiran dan bisa pula yang ada itu dalam kemungkinan. (Dardiri, : 13)
Aristoteles (dalam Dardiri, : 65) mengemukakan bahwa objek filsafat adalah fisika, metafisika, etika, politik, biologi, bahasa. Sedangkan Al-Kindi mengemukakan bahwa objek filsafat itu adalah fisika, matematika dan ilmu ketuhanan. Menurut al-Farabi, objek filsafat adalah semua yang maujud. Selain yang dikemukakan oleh para filosof di atas, menambahkan bahwa kepercayaan itu termasuk objek pembicaraan filsafat.(Syarif, 1963: 424, 456, 66)
Tidaklah terlalu asing orang mengatakan bahwa pembahasan filsafat agama tidak menambah keyakinan atau tidak meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Ini bisa berarti bahwa pembahasan agama secara filosofis tidak perlu dan usaha itu adalah sia-sia. Tetapi perlu diingat bahwa pembahasan filsafat agama bertujuan untuk menggali kebenaran ajaran-ajaran agama tertentu atau paling tidak untuk mengemukakan bahwa hal-hal yang diajarkan dalam agama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip logika.(Nasution, : 10)
D. Hubungan Ilmu dengan Agama
Ilmu dan agama merupakan dua instrumen penting bagi manusia untuk menata diri, berperilaku, bermasyarakat, berbangsa, bernegara serta bagaimana manusia memaknai hidup dan kehidupan. Keduanya diperlukan dalam mendorong manusia untuk hidup secara benar.
Sebagai makhluk berakal, manusia sangat menyadari kebutuhannya untuk memperoleh kepastian, baik pada tataran ilmiah maupun ideologi. Melalui sains, manusia berhubungan dengan realitas dalam memahami keberadaan diri dan lingkungannya. Sedangkan agama menyadarkan manusia akan hubungan keragaman realitas tersebut, untuk memperoleh derajat kepastian mutlak, yakni kesadaran akan kehadiran Tuhan. Keduanya sama-sama penjelajahan realitas. Namun kualifikasi kebenaran yang bagaimanakah yang diperlukan manusia, sehingga realitas sains dan agama masih sering dipertentangkan? Untuk menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara sains dan agama dapat ditinjau berbagai macam varian hubungan yang dapat terjadi antara sains dan agama. (M.Ridwan dalam http://forum.detik.com/showthread. Lihat pula al Quran Surat Al Faatir ayat 28.)
Hidayat dan Nafis (1995: 114) lebih melihat peran dan fungsi ilmu dan agama dalam persepektif kekinian. Dalam era globalisasi yang ditandai dengan tingkat kecanggihan teknologi, agama mulai terlihat kembali dibicarakan oleh banyak orang, karena memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Umat manusia tentunya merasa bersyukur, mengingat pembicaraan agama berarti sebagai pertanda bahwa umat manusia mulai lagi membicarakan dan mencari tentang makna dan tujuan hidup.
Dalam mencermati konsep sains, Bruno Guiderdoni (dalam M. Ridwan) mengemukakan pendapat yang disertai pula penalaran terhadap konsep agama. Dia membedakan istilah sains dan agama dalam banyak definisi, yaitu :
1. Bahwa sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”.
2. Sains berurusan dengan fakta, sedangkan agama berurusan dengan nilai atau makna.
3. Sains mendekati realitas secara analisis, sedangkan agama secara sintesis.
4. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kemudian akan mempengaruhi cara hidup kita, tetapi tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan agama adalah pesan yang diberikan Tuhan untuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan manusia untuk menghadap Tuhan.
Berkenaan dengan sains Durkheim seperti dikutip Imam Muhni ( 1994: 129) menegaskan bahwa agama merupakan suatu sistem pemikiran yang bertujuan menerangkan alam semesta ini, dan menugaskan diri untuk menterjemahkan realitas dengan bahasa yang dapat dimengerti, yang sebenarnya adalah bahasa sains. Durkheim tidak memberikan batasan yang jelas antara tugas ilmu dan mana tugas agama. Bila agama dikatakan dengan sistem pemikiran, maka apa bedanya dengan ilmu yang juga merupakan suatu proses berpikir yang sistemik/menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.
Dister Ofm (1996: 105) mencoba memilah keduanya, menurutnya, tidak juga dapat dikatakan bahwa keinginan intelek dipuaskan oleh agama. Sebab untuk sebagian intelek manusia bersifat rasional dan sejauh keinginannya ialah menangkap dan menguasai yang dikenalnya itu. Namun demikian, agama memang memberi jawaban atas “kesukaran intelektual kognitif”, sejauh kesukaran ini dilatarbelakangi oleh keinginan eksistensial dan psikologis, yaitu keinginan dan kebutuhan manusia akan orientasi dalam kehidupan, untuk dapat menetapkan diri secara berarti dan bermakna di tengah-tengah kejadian alam semesta.
Saifuddin (2003: 60), menilai, sekalipun kedua berbeda, namun ilmu dan agama dipertemukan dalam hal tujuannya. “Meskipun pendekatan yang digunakan keduanya berbeda (ilmu dan agama) atau bahkan bertentangan, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menegaskan makna dan hakekat nilai kemanusiaan dan kehidupan manusia”.
Dalam perspektif Smith hubungan agama dan sains sebagai konflik zero sum. Terhadap pernyataan ini, Gregory R. Peterson (dalam Huston Smith : 2003, 308-401) memberikan kritiknya terhadap sebuah tulisan, Menyoal Agama dan Sains: Tanggapan terhadap Huston Smith, ia menegaskan bahwa model hubungan yang baik antara agama dan sains, bukanlah zero sum seperti ditulis Smith, akan tetapi hubungan agama dan sains bersifat non zero sum game agar potensi keduanya dapat termanfaatkan dan akan memperkaya perpaduan keduanya.
Dengan kata lain bahwa meskipun wilayah agama dan ilmu masing-masing sudah saling membatasi dengan jelas, akan tetapi terdapat hubungan dan ketergantungan timbal balik yang amat kuat di antara keduanya. Meskipun agama adalah yang menentukan tujuan, tetapi dia telah belajar dalam arti yang paling luas, dari ilmu, tentang cara-cara apa yang akan menyumbang pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Ilmu hanya dapat diciptakan oleh mereka yang telah terilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, tumbuh dari wilayah agama. Termasuk juga disini kepercayaan akan kemungkinan bahwa pengaturan yang absah bagi dunia kemaujudan ini bersifat rasional, yaitu dapat dipahami nalar (Enstein: 1930).
Dengan demikian, jelas bahwa ilmu merupakan penyokong dalam mencapai tujuan hidup yang direfleksikan oleh agama. Demikian sebaliknya agama memberikan tempat bagi manusia (hamba) yang berilmu dihadapan Tuhan.
E. Hubungan Filsafat, Ilmu dan Agama
Anshari (dalam Kompasiana 2012) menyatakan, Baik ilmu maupun filsafat atau agama, bertujuan (sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama), yaitu kebenaran. Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri mencari kebenaran tentang alam dan manusia. Filsafat dengan wataknya sendiri pula menghampiri kebenaran, baik tentang alam, manusia dan Tuhan. Demikian pula agama, dengan karakteristiknya pula memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia tentang alam, manusia dan Tuhan.
Masih menurutnya, baik ilmu maupun filsafat, keduanya hasil dari sumber yang sama, yaitu ra’yu manusia (akal, budi, rasio, reason, nous, rede, vertand, vernunft). Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Allah. Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empirik) dan percobaan. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara mengembarakan atau mengelanakan akal budi secara radikal dan integral serta universal tidak merasa terikat dengan ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), sedangkan kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat bersifat nisbi (relatif), sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu yang di turunkan Dzat Yang Maha Benar, Maha Mutlak dan Maha Sempurna. Baik ilmu maupun filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman. Adapun titik singgung, adalah perkara-perkara yang mungkin tidak dapat dijawab oleh masing-masingnya, namun bisa dijawab oleh salah satunya. Gambarannya, ada perkara yang dengan keterbatasan ilmu pengetahuan atau spekulatifnya akal, maka keduanya tidak bisa menjawabnya. Demikian pula dengan agama, sekalipun agama banyak menjawab berbagai persoalan, namun ada persoalan-persoalan manusia yang tidak dapat dijawabnya. Sementara akal budi, mungkin dapat menjawabnya.

FILSAFAT ILMU dan METODOLOGI PENELITIAN

FILSAFAT ILMU dan METODOLOGI PENELITIAN

Filsafat
Sejarah kefilsafatan di kalangan filsuf menjelaskan tentang tiga hal yang yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu kekaguman atau keheranan, keraguan atau kegengsian dan kesadaran akan keterbatasan. Plato mengatakan : ‘Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan kepada kita untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berawal filsasfat’.
Augustinus dan Descartes mulai berfilsafat dari keraguan atau kesangsian. Manusia heran, tetapi kemudian ragu-ragu, apakah ia tidak ditipu oleh panca indranya yang sedang heran? Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh, dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki. Berpikir secara mendalam, menyeluruh, dan kritis inilah yang kemudian disebut berfilsafat.
Berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri manusia. Berfilsafat kadang-kadang dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah, terutama dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apabila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi manusia mulai berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran hakiki.
Berdasarkan pengetahuannya, terdapat beberapa jenis manusia dalam kehidupan ini, sebagaimana dipantunkan seorang filsuf:
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, maka ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah pula apa yang kau tidak tahu, lanjut filsuf tersebut.
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu. Kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu. Filsafat dimulai dari rasa ingin tahu dan keragu-raguan. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita geluti sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti keterus-terangan pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu itu? Apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lain yang bukan ilmu? Bagaimana mengetahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang dipakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa ilmu mesti dipelajari? Apa kegunaan ilmu yang sebenarnya?
Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah diketahui. Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya diketahui dalam hidup ini? Di batas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti? Ke manakah kita harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kekurangan ilmu?
Pengertian Filsafat. Menurut arti kata, filsafat terdiri atas kata philein yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Cinta berarti hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sunguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Jadi filsafat artinya hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati.
Menurut pengetian umum, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat segala susuatu untuk memperoleh kebenaran. Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat. Ilmu pengetahuan tentang hakikat menanyakan apa hakikat atau sari atau inti atau esensi segala sesuatu. Dengan cara ini maka jawaban yang akan diberikan berupa kebenaran yang hakiki. Ini sesuai dengan arti filsafat menurut kata-katanya.
Dengan pengertian khusus, karena telah mengalami perkembangan yang cukup lama dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks maka timbul berbagai pendapat tentang arti filsafat dengan kekhususan masing-masing. Berbagai pendapat khusus tentang filsafat:

Aliran-alliran tersebut mempunyai kekhususan masing-masing, menekankan kepada sesuatu yang dianggap merupakan inti dan harus diberi tempat yang tinggi, misalnya ketenangan, kesolehan , kebendaan, akal, idea.
Dari beberapa pendapat diatas, pengertian filsafat dapat dirangkum sebagai berikut:
*      Filsafat adalah hasil pikiran manusia yang kritis dan dinyatakan dalam bentuk yang sistematis.
*      Filsafat adalah hasil pikiran manusia yang paling dalam.
*      Filsafat adalah refleksi lebih lanjut daripada ilmu pengetahuan atau pendalaman lebih lanjut ilmu pengetahuan.
*      Filsafat adalah hasil analisis abstraksi.
*      Filsafat adalah pandangan hidup.
*      Filsafat adalah hasil perenungan jiwa manusia yang mendalam, mendasar, dan menyeluruh.
Dari rangkuman tersebut dapatlah dikemukakan bahwa ciri-ciri berfilsafat adalah sebagai berikut:
Karakteristik Berfikir Filsafati: Sifat Menyeluruh, Sifat Menyeluruh, Sifat Mendasar, Sifat Spekulatif.
Sifat menyeluruhberpikir filsafati. Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Masing-masing ingin mengetahui hakikat dirinya atau menyimak kehadirannya dalam kesemestaan alam yang ditatapnya.
Seorang ilmuan tidak akan pernah puas mengenai ilmu hanya dari sisi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Apa kaitan ilmu dengan moral, dengan agama, dan apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Sifat mendasar berfikir filsafati. Selain tengadah ke bintang-bintang, orang yang berfikir filsafati juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Lalu benar itu apa? Pertanyaan itu melingkar sebagai sebuah lingkaran, yang untuk menyusunnya, harus dimulai dari sebuah titik, sebagai awal sekaligus sebagai akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?
Sifat spekulatif berfikir filsafati. Tidaklah mungkin manusia menangguk pengetahuan secara keseluruhan, bahkan manusia tidak yakin pada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Ini hanya sebuah spekulasi. Menyusun sebuah lingkaran memang harus dimulai dari sebuah titik, bagaimanapun spekulatifnya. Yang penting, dalam prosesnya nanti, dalam analisis maupun pembuktiannya, manusia harus dapat memisahkan spekulasi mana yang paling dapat diandalkan. Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya?
Semua pengetahuan yang ada, dimulai dari spekulasi. Dari serangkaian spekulasi dapat dipilih buah pikiran yang paling dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjajahan pengetahuan. Tanpa menerapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik dan buruk, tidak mungkin bicaara tentang moral. Tanpa wawasan apa yang disebut indah dan jelek, tidak mungkin berbicara tentang kesenian.
Hubungan Antara Filsafat Dengan Kebudayaan dan Lingkungan
Hubungan filsafati dengan kebudayaan. Kebudayaan berasal dari kata ke-budaya-an. Budaya berarti budi dan daya. Unsur budi adalah cipta (akal), rasa, dan karsa (kehendak). Kebudayaan adalah hasil budaya atau kebulatan cipta (akal), rasa dan karsa (kehendak) manusia yang hidup bermasyarakat. Antara manusia dan masyarakat serta kebudayaan ada hubungan yang erat. Tanpa masyarakat, manusia dan kebudayaan tidak mungkin berkembang layak. Tanpa manusia tidak mungkin ada kebudayaan. Tanpa manusia tidak mungkin ada masyarakat. Ujud kebudayaan ada yang rohani, misalnya adat istiadat dan ilmu pengetahuan ada yang jasmani, misalnya rumah dan pakaian. Buku adalah kebudayaan jasmani, akan tetapi isi buku merupakan kebudayaan rohani. Ilmu pengetahuan merupakan unsur kebudayaan universal yang rohanni. Demikian juga filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang terdalam. Oleh karena itu filsafat termasuk kebudayaan.
Hubungan filsafat dengan lingkungan. Manusia, masyarakat dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat, juga dengan alam sekitar atau lingkungan. Filsafat sebagai hasil budaya manusia juga tidak lepas dari pengaruh alam sekitarnya. Itulah sebabnya terdapat berbagai jenis kefilsafatan tertentu yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.
Hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan. Yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran. Demikian juga ilmu pengetahuan dan agama. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu pengetahuan adalah kebenaran akal, sedang kebenaran dalam agama adalah kebenaran wahyu. Meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh juga bermacam-macam. Terdapat bermacam-macam agama, yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Yang penting adalah bagaimana agar aliran yang bermacam-macam dalam filsafat dan ilmu pengetahuan itu tidak saling bertabrakan satu sama lain, tetapi dapat saling membantu dan bekerja sama.
Hubungan filsafat dengan agama. Jika seseorang melihat sesuatu kemudian mengatakan tentang sesuatu tersebut maka dikatakan bahwa ia telah mempunyai pengetahuan tentang sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran manusia. Misal, ia melihat manusia dan mengatakan bahwa itu manusia. Dikatakan ia telah mempunyai pengetahuan tentang manusia. Jika ia bertanya lebih lanjut mengenai manusia itu, darimana asalnya, bagaimana susunannya, ke mana tujuannya, dan sebagainya, maka akan diperoleh jawaban yang lebih rinci mengenai manusia tersebut. Jika titik berat pertanyaan ditekankan pada susunan tubuh manusia maka jawabannya akan berupa ilmu pengetahuan tentang manusia dilihat dari susunan tubuhnya atau physical anthropology. Jika ditekankan pada hasil karya manusia dilihat dari kebudayaannya maka disebut cultural anthropology. Jika ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainya, maka jawabannya akan berupa ilmu pengetahuan manusia dilihat dari hubungan sosialnya atau social anthropology. Dari contoh tersebut disimpulkan bahwa pengetahuan yang telah disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya disebut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tentang manusia.
Ilmu pengetahuan dan filsafat dapa membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia. Sebaliknya, agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Meskipun demikian tidak berarti bahwa agama itu di luar rasio, bahwa agama tidak rasional. Tidak berarti bahwa agama hanya berhubungan dengan hal-hal yang irrasional sedangkan ilmu pengetahuan serta filsafat berhubungan dengan hal-hal yang rasional. Agama mengatur seluruh kehidupan manusia untuk berbakti kepada Tuhan. Fakta atau realita atau hal yang dihadapi adalah sama. Oleh karena itu menjadi tugas agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan untuk menjelaskan. Tugas agama dapat dibantu oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Apabila masing-masing tahu tempat, ruang lingkup, dan tugasnya sendiri-sendiri, maka tak akan ada masalah apapun dan tidak akan terjadi pertentangan di antaranya.
Guna Filsafat. Filsafat mempunyai kegunaan baik teoritis maupun praktis. Dengan mempelajari filsafat, orang akan bertambah pengetahuannya. Ia dapat menyelidiki segal sesuatu lebih mendalam dan lebih luas sehingga akan sanggup menjawab semua pertanyaan secara lebih mendalam dan luas pula.
Filsafat mengajarkan hal-hal yang praktis, yang oleh karena itu mempunyai kegunaan praktis juga. Banyak ajaran filsafat yang dapat dipraktikkan, misal etika, logika, estetika, dan lain-lain. Etika mempelajari tingkah laku dan perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar, ucapan serta hati nurani manusia dilihat dari kacamata baik buruk. Etika mengajarkan bagaimana norma yang baik dan bagaimana manusia hidup menurut norma tersebut. Apa tantangan yang dihadapi oleh manusia dan bagaimana menjawabnya. Selama ada manusia yang berbuat, selama itu pula nilai etika berlaku. Dengan mempelajari etika sebagai cabang filsafat maka orang dapat memetik buah yang berharga bagi diri dan kehidupannya.
Logika mengajarkan agar kita berpikir secara teratur dan runtut serta sistematis agar dapat mengamil kesimpulan yang benar. Logika adalah cabang filsafat tentang berpikir. Dalam kehidupan sehari-hari orang selallu mengambil kesimpulan. Agar dapat mengambil kesimpulan yang benar maka alat yang digunakan harus tepat. Alat tersebut diperoleh dalam logika, karena ia berisi tuntunan agar mengambil kesimpulan dengan mendasarkan diri pada peraturan-peraturan tertentu.
Dalam filsafat juga dikenal adanya cabang yang membicarakan tentang keindahan, dengan kata lain filsafat keindahan atau filsafat seni.  Dalam rangka membentuk manusia idaman, seorang filsuf terkenal , Plato, mengemukakan agar musik menjadi salah satu mata pelajaran. Sementara salah satu mata kuliah yang dianggap penting oleh Cassiodorus adalah rethorica, yaitu seni berpidato.
Berdasarkan uraian tersebut maka filsafat mempunyai kegunaan sebagai berikut:
*   Melatih diri untuk berpikir kritis dan runtut serta menyusun hasil pikiran tersebut secara sistematis
*   Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berpikir dan bersikap sempit dan tertutup.
*   Melatih diri melakukan penelitian, pengkajian, dan memutuskan atau mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal secara mendalam dan komprehensif.
*   Menjadikan diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
*   Membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan tenggang rasa.
*   Menjadi alat yang berguna bagi manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain, alam sekitar, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Fungsi Filsafat. Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan. Sebelum ilmu pengetahuan lain ada, filsafat harus menjawab segala macam persoalan tentang manusia, masyarakat, sosial ekonomi, negara, kesehatan, dan lain sebagainya. Karena perkembangan keadaan dan masyarakat, banyak problem yang kemudian tidak dapat dijawab oleh filsafat. Lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawabab terhadap problem-problem tersebut, misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan kedokteran, ilmu pengetahuan kemasyarakatan, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan tersebut lalu terpecah-pecah lagi menjadi yang lebih khusus. Demikianlah kemudian lahir berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan kekhususan masing-masing.
Spesialisasi terjadi sedemikian rupa sehingga hubungan antara cabang dan ranting ilmu pengetahuan sangat kompleks. Hubungan-hubungan tersebut ada yang masih dekat tetapi ada pula yang yang menjadi jauh, bahkan ada yang seolah-olah tidak lagi mempunyai hubungan. Jika ilmu-ilmu pengetahuan tersebut berusaha memperdalam dirinya maka akhirnya akan sampai juga pada filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut maka filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistem. Filsafat dapat berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetahuan yang kompleks tersebut. Filsafat dapat berfungsi sebagai tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Persoalan Filsafat. Ada enam persoalan yang selalu menjadi perhatian para filsuf, yaitu ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Keenam persoalan tersebut memerlukan jawaban secara radikal dan tiap-tiap persoalan menjadi salah satu cabang filsafat.
Persoalan tentang ‘Ada’. Persoalan tentang ‘ada’ (being) menghasilkan cabang filsafat metafisika. Meta berarti di balik dan physika berarti benda-benda fisik. Pengertian sederhana dari metafisika yaitu kajian tentang sifat paling dalam dan radikal dari kenyataan. Dalam kajian ini para filsuf tidak mengacu kepada ciri-ciri khusus dari benda-benda tertentu, akan tetapi mengacu kepada ciri-ciri universal dari semua benda. Metafisika sebagai salah satu cabang fisafat mencakup persoalan ontologis, kosmologis, dan antropologis. Ketiga hal tersebut memiliki titik sentral kajian tersendiri. Ontologis merupakan teori tentang sifat dasar dari kenyataan yang radikal dan sedalam-dalamnya. Kosmologi merupakan teori tentang perkembangan kosmos (alam semesta) sebagai suatu sistem yang teratur.
Persoalan tentang pengetahuan (Knowledge). persoalan tentang pengetahuan (knowledge) menghasilkan cabang filsafat epistemologi, yaitu filsafat pengetahuan. Istilah epistemologi berasal dari akar kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahhuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
Persoalan tentang metode (methode). Persoalan tentang metode menghasilkan cabang filsafat metodologi. Istilah ini berasal dari metos dengan unsur meta yang berarti cara, perjalan, sesudah, dan hodos yang berarti cara perjalan, arah. Pengertian metodologi secara umum ialah kajjian atau telaah dan penyusunan secara sistematis yang menuntun suatu penelitian dan kajian ilmiah, atau sebagai penyusun struktur ilmu-ilmu fak.
Persoalan tentang penyimpulan. Persoalan tentang penyimpulan menghasilkan cabang filsafat logika (logis). Logika berasal dari kata logos yang berarti uraian, nalar. Secara umum pengertian logika adalah telah mengenai aturan-aturan penalaran yang benar. Berpikir adalah kegiatan pikiran atau akal budi manusia. Dengan berpikir manusia telah mengerjakan pengolahan pengetahuan yang telah didapat. Dengan mengerjakan, mengolah pengetahuan yang telah didapat maka ia dapat memperoleh kebenaran. Apabila seseorang mengolah, mengerjakan, berarti ia telah mempertimbangkan, membandingkan, menguraikan, serta menghubungkan, pengertian yang satu dengan lainnya. Logika merupakan suatu upaya untuk menjawab pertanyaan, yaitu pertanyaan: adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat, apakah yang dimaksud dengan pendapat yang benar, apa yang membedakan antara alasan yang benar dan alasan yang salah?
Persoalan tentang moralitas (morality). Persoalan tentang moralitas menghasilkan cabang filsafat etika (ethics). Istilah etika berasal dari kata ethos yang berarti adat kebiasaan. Etika sebagai salah datu cabang filsafat menghendaki adanya ukuran yang bersifat universal. Dalam hal ini berarti berlaku untuk semua orang dan setiap saat. Jadi tidak dibatasi ruang dan waktu.
Persoalan tentang keindahan. Persoalan tentang keindahan menghasilkan cabang filsafat estetika (aesthetics). Estetika berasal dari kata aesthetics yang maknanya berhubungan dengan penerapan indra. Estetika merupakan kajian kefilsafatan mengenai keindahan dan ketidakindahan. Faham pengertian yang lebih luas, estetika merupakan cabang filsafat yang menyangkut bidang keindahan atau sesuatu yang indah terutama dalam masalah seni dan rasa, norma-norma nilai dalam seni.   
.......
Pustaka:
Soetriono dan Hanafie (2007), Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, Andi Yogyakarta